Sudut jalan yang membuat bimbang.
Akankah lurus, jalan ke kiri,ke kanan atau kembali ke jalan sebelumya. Sudut jalan
yang membuat dia harus menentukan arah kemana akan pergi melangkahkan kakinya.
Sudut jalan yang membuat dia harus
menghentikan langkahnya. Sudut jalan itu adalah keputusan. Pilihan yang hanya
satu di masing-masing jalan. Itulah keputusan yang harus di ambil Rara, remaja
berumur 16 tahun yang bersekolah di salah satu SMA favorit di kotanya. Beasiswa
kuliah ke Jerman di depan mata, tapi yang di sesalkan Rara tidak ingin
meninggalkan orang tua, negaranya dan yang jelas teman dekatnya yang bernama
Yusuf. Beasiswa keluar negeri pun tak buat dirinya bahagia bila harus
meninggalkan orang-orang yang di sayanginya.
***
“Hai, Racun.” Yusuf memanggil Rara yang
sedang membaca buku di taman sekolah.
Yusuf duduk di sebelah Rara yang masih
melanjutkan membaca buku tanpa memperhatikannya. Yusuf mencoba mencari
perhatiannya dengan mencubit pipi Rara.Rara hanya menoleh, lalu kembali membaca
buku yang dibawanya sambil menangis.Yusuf menanyakan mengapa dia menangis,
pertanyaan itu tidak di jawab, Rara hanya menangis sedih dan berlari menuju
kelasnya. Yusuf berusaha mengejar Rara. Yusuf di tarik temennya yang bernama Darma
untuk membicarakan Program Kerja OSIS di sekolahnya. Terpaksa Yusuf
mengurungkan niatnya untuk mengejar Rara dan lebih memilih ke ruang OSIS
bersama Pembina OSIS dan teman-temannya.
Rara menangis tersedu-sedu di dalam
kelasnya. Dira, sahabat Rara sudah berusaha menenangkan Rara yang sedang larut
dalam kesedihan.
“Rara mengapa menangis? Nafa ganggu
hubunganmu dengan Yusuf?” Tanya Dira mencoba bertanya tentang kesedihannya.
Rara semakin kencang dan tak berhenti menangis.
Rara meninggalkan kelasnya dan pergi menuju lantai 3. Darma mebuntuti Rara dari
belakang. Berlari menaiki tangga sekolah sampai lantai 3 dan berhenti di sudut
bangunan, lalu tersungkur jatuh. Darma mendekat ke arah Rara, lalu berkata,
“Aku mengerti apa yang kamu inginkan,
Ra, namun bukan apa yang kau rasakan.”
“Kalau kamu gak mau berangkat ke
Jerman, ya sudah, aku saja yang akan berangkat.” Kata Yusuf yang tiba-tiba
datang dari tangga.
Mata merah Rara menatap Yusuf dengan
penuh penasaran. Tangisan pun berhenti. Yang tadinya tubuh Rara lunglai karena
tangisannya sendiri, kekuatannya berkumpul kembali hingga mampu mengangkat
tubuhnya untuk berdiri dan berjalan mendekat ke arah Yusuf.
“Aku gak nyangka, ya, Yus. Pikiranku
benar-benar terganggu karena memikirkan ini. Sedangkan kamu, begitu mudahnya
melepas semua. Ambil sana beasiswaku!” Lantas Rara pergi turun tangga. Badannya
lunglai kembali, hingga pingsan.
Yusuf menangkap tubuh Rara. Di gendongnya
Rara untuk di bawa ke UKS. Teman-temannya pun ikut menuju ke UKS, dan salah
satu temannya ke kelas Rara untuk memberitahukan bahwa Rara pingsan sehingga
tidak dapat mengikuti pelajaran. Yusuf berusaha membangunkan Rara dari pingsan.
Rara tak kunjung bangun. Di dengarnya suara kaleng yang membentur pintu UKS. Membuat
Yusuf penasaran dan keluar dari ruang UKS. Di periksanya kaleng itu dan melihat
sekeliling sekolah. Dia hanya melihat guru-guru yang berjalan melewati koridor
sekolah dan tidak menemukan aktivitas siswa lainnya di sekitar ruang UKS. Saat
Yusuf kembali ke ruang UKS, di lihatnya Rara yang berlumuran busa di mulutnya.
Kebetulan juga, seorang ibu guru masuk ke dalam ruang UKS untuk melihat buku
administrasi. Ibu guru itu juga panik.
Sesampainya di Rumah Sakit dan setelah
Rara mendapatkan perawatan, dokter memperkirakan bahwa busa itu adalah akibat
dari keracunan obat yang baru saja di minumnya.
“Namun, sebelum kejadian Rara hanya
membaca buku di taman, ke lantai 3, pingsan lalu di bawa ke ruang UKS.Tidak ada
tanda-tanda dia minum obat atau sesuatu dan jika sebelum bertemu dengan saya
dia minum obat mengapa reaksinya lama? Tapi, sebelum bibir Rara berbusa, saya
keluar ruang UKS karena ada yang melempar kaleng ke dalam ruangan.” Jelas Yusuf
berkata pada dirinya sendiri.
Bapak Ibu guru yang berada di tempat
itu langsung memandang Yusuf. Yusuf melihat mereka yang memandangnya. Yusuf lantas
masuk ke bangsal tempat Rara di rawat.
“Mengapa kamu pingsan? Saat di UKS apa
yang terjadi?” Tanya Yusuf bergegas.
“Yusuf, apa sih kamu ini? Tanyanya maksa
gitu.” Jawab Rara keheranan.
“Jawab!” Paksa Yusuf.
“Aku pingsan karena setelah mendengar
apa yang kamu katakan. Di UKS aku di bungkam oleh seseorang, dia memasukkan
sesuatu ke mulutku. Aku pingsan kembali. Setelah bangun aku sudah berada
disini.” Jelas Rara.
Bapak dan ibu guru yang ikut ke rumah
sakit, lalu kembali ke sekolah bersama Yusuf. Yusuf hanya melamun selama
perjalanan. Dia tak mengerti apa yang sedang terjadi. Karena sesungguhnya dia
juga mendapatkan beasiswa. Dan beasiswa itu yang dapat hanya 3 orang, Yusuf, Rara,
dan Alin. Rara memang siswa pertama yang mendapatkan beasiswa, dan dia belum
mengetahui bahwa Yusuf dan Alin juga mendapatkan beasiswa itu. Jika seseorang
iri akan beasiswa, seharusnya dia iri terhadap Yusuf atau Alin, bukan Rara.
Yusuf masih saja bertanya dalam hatinya. Ataukah seseorang cemburu dengan
hubungan mereka? Namun, hubungan mereka sudah dari SMP, dan sekarang sudah
kelas 3 SMA itu pun sudah UNAS. Hanya tinggal menunggu pengumuman, dan Ujian
Sekolah. Menurut Yusuf, Rara adalah gadis yang cantik dan baik. Pertemanannya
juga bagus. Tapi, mengapa ada seseorang yang begitu jahat dengan Rara? Sesampai
sekolah, Yusuf di panggil ke ruang kepala sekolah, lalu melanjutkan belajar di
kelas.
Di dalam lorong rumah sakit Rara
berjalan tertatih-tatih. Dia masih merasakan pusing. Karena tidak ada yang
menungguinya di bangsal, terpaksa Rara harus keluar ke kantin rumah sakit untuk
membeli makanan dan minuman serta barang-barang yang dia perlukan di bangsal
sampai Mamanya datang. Rara bermaksud untuk ke toilet umum terlebih dahulu.
Namun, yang terjadi Rara di pukul seseorang dari belakang. Rara mengalami
pingsan dan pendarahan di kepala belakang. Rara di temukan seorang cleaning
service yang sedang berjalan melewati toilet. Rara segera di bawa ke UGD rumah
sakit tersebut. Pihak Rumah Sakit memberi kabar kepada Mama Rara dan pihak
sekolah. Yusuf yang saat itu sedang mengambil buku di kantor guru, mendengar berita
tersebut terkejut. Mama dan Papa Rara datang ke Rumah Sakit.
“Anda orang tua dari sodara Rara Lorena
Subrata?” tanya Prof. dr. Riyadi.
“Benar, Prof. Anak saya bagaimana
keadaannya?” Sahut Papa Rara.
“Rara mengalami benturan di kepala
belakang. Setelah kami city scan terjadi pendarahan di otak. Lebih baik, Rara
di operasi saat ini juga, Pak.” Jelas Profesor Riyadi.
“Berikan yang terbaik untuk anak saya,
Pak. Saya akan membayar biaya administrasinya sekarang juga.” Kata Papa Rara.
Operasi yang di tempuh sekitar 2 jam
siang itu berjalan berhasil. Namun, karena operasi itu Rara tidak sadar selama
2 hari dan dia harus opname selama 6 hari. Selama satu minggu dia tidak
melakukan aktivitas apapun di Rumah Sakit, hanya berbaring di tempat tidur.
Selama 3 hari setelah pulang dari Rumah Sakit Rara perawatan di rumah.
Kejenuhan mulai di rasakannya. Dia bermaksud untuk berangkat sekolah. Namun,
Rara trauma akan kejadian yang telah terjadi. Rara tidak ingin sendiri.
Hari pertama Rara berangkat sekolah
setelah dia di operasi di antar oleh Papa dan Mamanya. Untuk berjalan ke ruang
kelasnya, Rara di bantu oleh Mamanya. Sahabatnya, Dira, menghampiri Rara di
depan ruangan dan membantu memapah Rara.
“Aku baik-baik saja, Dira. Aku hanya
tidak mau sendiri. Kamu janji, ya, tidak akan meninggalkanku?” Kata Rara, sambil
mengacungkan jari kelingkingnya.
“Duduklah, Rara. Iya, aku berjanji.”
Kata Dira yang mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Rara.
“Terima kasih, ya, Nak Dira. Sayangku
Rara, sama Dira, ya, Mama pamit.” Kata Mama Rara sambil mencium kening Rara.
Mama Rara meninggalkan ruang kelas
Rara. Mama Rara berjalan dalam koridor yang sepi. Dalam koridor itu Yusuf
berjalan dan menghampiri Mama Rara. Seperti biasanya, mengobrol sebentar dan di
akhiri dengan mencium tangan Mama Rara. Mama Rara melanjutkan berjalan ke
koridor sepi itu dan Yusuf berjalan ke kelasnya. Tiba-tiba Mama Rara berteriak
yang membuat Yusuf terkejut dan menoleh ke belakang. Di lihat Yusuf, Mama Rara
sudah bersimbah darah yang keluar dari kepala. Yusuf berteriak meminta tolong
kepada orang-orang sekitar, lalu menuju ke tempat kejadian. Rara yang mendengar
teriakan minta tolong segera keluar kelas, berjalan ke arah suara dengan di
bantu Dira. Rara dan Dira menelusup di kerumunan banyak orang yang di dalamnya
terdapat Mama yang tergeletak bersimbah darah dan Yusuf yang memangku
kepalanya.
“Mama!!!” Teriak Rara langsung memeluk
Mamanya.
“Ayo bawa Mamaku ke mobil. Papaku masih
di depan sekolah.” Mohon Rara.
Rara, Yusuf, dan Dira mengantar Mama
Rara ke rumah sakit bersama Papa Rara. Mama Rara langsung di bawa ke ruang UGD.
Yusuf yang menenangkan Rara di Rumah Sakit berpikir keras akibat dari yang
telah terjadi di beberapa kejadian. Dan Yusuf heran, mengapa orang tersebut
mengincar kepala belakang. Yusuf berpikir korban selanjutnya adalah Papa Rara.
Namun, apa hubungan orang tersebut dengan keluarga Rara? Apa yang sebenarnya
yang di incar oleh orang itu terhadap Rara dan keluarganya.
“Maaf, Om, bisa bicara sebentar. Dira
tolong Rara di tenangin dulu.” Kata Yusuf.
“Ada apa, Nak?” Kata Papa Rara.
“Tidakkah Om Andi merasa aneh dengan
kejadian yang di alami Rara dan Tante Siska? Sepertinya orang itu memiliki
dendam atau sejenisnya terhadap keluarga Om Andi. Maaf, Om, lebih baik Om Andi
berhati-hati. Karena hanya ada dua pilihan, Om Andi atau Reno adik Rara yang
masih bersekolah di tingkat SMP. Jika korban selanjutnya Reno, berarti orang
ini adalah rekan Om yang mempunyai anak satu sekolah dengan kami. Karena
kejadian tersebut berada di sekolah dan rumah sakit.” Jelas Yusuf terhadap Papa
Rara.
“Mengapa aku tidak terpikirkan? Kau
benar-benar jenius, Nak. Om menjadi ingat kesalahan Om dahulu. Terima kasih
Yusuf.” Kata Papa Rara.
“Apa kau benar-benar ingat, Andi
Subrata?” Tanya seorang wanita paruh baya dengan suara lantang muncul dari
balik pintu koridor bersama seorang gadis teman sekolah Yusuf.
“Ya, Sinta. Aku ingat, inikah anak kita
yang kau ceritakan?” Tanya Papa Rara.
“Om Andi? Maksudnya?” Tanya Yusuf.
“Aku mencintaimu sejak SMP, Yusuf.
Namun, kau memilih Rara. Aku anak hasil perselingkuhan dari Bapak Andi Subrata
selaku Direktur dan pemilik perusahaan besar di kota ini dengan Mamaku. Mama
membujukku untuk membunuh keluarga Pak Andi, tadinya aku tidak mau karena
kebaikan Rara, namun, Rara juga merebutmu dariku.” Jelas Feronika.
“Apasih? Kenapa jadi dramatis gini?
Sudah, relakan saja Pak Andi Subrata bahagia bersama keluarganya. Dan buat kamu
Fero, terima kasih kamu sudah mempunyai hati untuk tidak ingin melakukan
keburukan. Namun, jika hawa nafsu menguasaimu lihat apa yang terjadi?” Kata
Yusuf.
“Jadi, kamu yang memasukkan obat itu ke
mulutku, Fero? Kamu juga yang memukul kepala Mamaku? Dan Tante Sintalah yang
memukulku di Rumah Sakit waktu itu? Jahat kalian! Dan kenapa Papa selingkuh
dari mama? Jawab, Pa?” Kata Rara yang berjalan sambil di peluk Dira.
“Tak hanya itu!” Kata Tante Sinta.
“Maksud kamu?” Tanya Papa Rara.
Tante Sinta dan Feronika langsung pergi
begitu saja tanpa pamit. Saat itu juga Profesor yang menangani Rara dahulu
selesai memeriksa keadaan Mama Rara dan keluar dari ruangan.
“Sudah kami cityscan. Hasilnya baik-baik
saja. Hanya mengalami sobek di leher bagian belakang dan kepala. Dan sudah kami
tangani. Mari, Pak Andi.” Kata Profesor Riyadi.
“Silahkan, prof. Terima kasih.” Kata
Papa Rara mempersilahkan.
“Biar Mama yang Papa tunggu, Ra.
Kembalilah ke sekolah naik taksi atau perlu Papa suruh Pak Min untuk menjemput
kalian?” Suruh Papa Rara.
“Rara balik ke sekolahnya naik taksi
aja, Pa, lebih cepet. Jagain Mama baik-baik, ya, Pa? Dan meminta maaflah kepada
Mama atas keburukan Papa dahulu.” Kata Rara.
Rara, Dira dan Yusuf kembali ke sekolah
naik taksi. Kegiatan belajar mengajar mereka ikuti seperti biasanya. Setelah
pulang sekolah Yusuf mengumpulkan anak-anak OSIS untuk rapat kegiatan.
Sedangkan, Rara ada les tambahan. Mereka sepakat untuk pulang bareng. Kegiatan
mereka berakhir pukul 5 sore. Yusuf yang membawa mobil pada hari itu membuat
Dira ingin nebeng pulang bareng. Yusuf mengantar Dira terlebih dahulu, lalu menuju
ke rumah Rara. Sepanjang perjalanan mereka mengobrol asik di dalam mobil.
“Musiknya aku matiin aja, ya?
Perasaanku tidak enak.” Gelisah Rara.
“Kamu kenapa, Ra?” Tanya Yusuf.
“Kita langsung pulang ke rumah aja.”
Perintah Rara.
Mobil yang disopiri oleh Yusuf petang
itu segera melesat ke rumah Rara. Rara pun terkejut, ada bendera putih di
gerbang rumahnya. Ada mobil ambulan di dekat rumahnya. Rumahnya begitu ramai.
Bahkan, saudaranya yang tinggal di luar kota pun ikut datang. Yusuf dan Rara
merasa heran berada di mobil. Mobil polisi pun datang membawa rombongan polisi
yang siap senjata. Rara begitu heran.
“Yusuf, ayo anter aku ke dalem. Mau
kan?” Kata Rara yang begitu gelisah.
“Ada apa ini?” Kata Yusuf sambil
melepas sabuk pengamannya dan turun dari mobil untuk membukakan pintu mobil
untuk Rara.
Mereka pun masuk ke gerbang, banyak
orang-orang menangis. Rara heran, mengapa yang datang kebanyakan tetangganya
dan anak-anak kecil? Rara mulai melemas dan dipapah oleh Yusuf. Langkah mereka
santai penuh dengan keheranan dan hati-hati. Mobil ambulan pun datang kembali,
ketika Rara melihat orang yang turun dari ambulan adalah Mamanya, Rara semakin
bertanya-tanya. Lalu siapa yang meninggal? Kemana Papa dan adiknya? Ketika
Yusuf dan Rara masuk ke dalam pintu utama rumahnya. Disambut oleh seseorang
yang tidur di atas meja dengan di tutup kain putih. Rara berhati-hati berjalan
ke arah meja itu. Tubuh Rara mulai semakin melemas, bergetar, keringat dingin
pun bercucuran. Rara mencoba membuka perlahan kain penutup orang yang tertidur
di atas meja. Di lihatnya mulai dari rambut, kening, alis, mata. Rara langsung
menangis dan semakin melemas dan tak berdaya ketika dia tahu bahwa yang
meninggal adalah adiknya. Yusuf terkejut, dan Rara langsung pingsan. Rara di
bawa ke kamar tidurnya. Disadarkan oleh pembantunya dan yang tadinya masih
menggunakan seragam putih abu-abu sudah digantikan bajunya.
“Syukurlah, Non, sudah sadar. “ Kata
Pembantu itu.
“Bi, Papa mana? Papa suruh kesini.”
Suruh Rara.
“Ada apa, Nak? Papa disini.” Kata
Papanya yang datang dari balik pintu dengan kursi roda.
“Loh? Papa kenapa? Oh, iya, Pah,
berarti maksud dari Mamanya Feronika tadi siang, yang katanya yang dia lakukan
tak hanya sekedar yang aku sebutin itu membunuh Adik sama melumpuhkan Papa?”
Tanya Rara sambil menangis.
“Iya, Nak.” Kata Papa Rara.
Datang seorang anak kecil yang berwujud
seperti adiknya menyodorkan teh untuk Rara. Rara terkejut dan pingsan kembali.
Pembantu Rara menyadarkan kembali dari pingsannya. Rara pun terbangun dan dia
langsung menangis.
“Reno, kenapa bayanganmu selalu ada di
pikiran kakak walaupun kamu sudah meninggal?” Rara terisak memangis sambil
memeluk bantal kesayangan adiknya.
“Kak, Reno belum meninggal.” Kata anak
kecil yang mirip dengan adiknya itu.
“Kamu sudah meninggal Reno, pergilah!”
Kata Rara.
“Rara sayang, ini Reno.” Kata Papanya
sambil memutar roda kursinya mendekati Rara.
“Yang Rara lihat di atas meja tadi
siapa, Pah?” Tanya Rara terheran.
Tiba-tiba
suara ledakan dan teriakan dari balik pintu kamar Rara terdengar sangat keras.
“Happy birthday, Rara. Sweet seventeen,
ya?” Kata orang-orang itu sambil membawa banyak hadiah dan Kue.
“Selamat ulang tahun, ya, Nak. Kamu
tahu ini ide siapa?” Tanya Mama Rara yang mendekat dan duduk di sebelah Rara.
Yusuf
datang membawa kue berbentuk hati dengan lilin angka 17 diatasnya.
“Happy birthday, ya, Racun.” Kata
Yusuf.
“Ini semua ide Yusuf. Adikmu Reno masih
hidup. Pak polisi di depan adalah teman-teman Papa. Ambulan di depan yang
mengantar Mama ke rumah dan satunya yang mengantar Papa pulang.
Saudara-saudaramu ini mau menginap disini selama beberapa hari.” Kata Mama
Rara.
“Papa kenapa, Ma? Ini hanya di kerjain,
kan?” Tanya Rara.
“Yang di maskud Tante Siska adalah
melumpuhkan kaki Papa dan mengambil sebagian dari harta Papamu, Ra. Dan polisi
sedang mencari keberadaannya.” Kata Yusuf.
“Ayo, kak, tiup lilinnya.” Suruh Adik
Rara.
Pesta itu berlanjut dengan makan-makan
di sebuah restoran mewah. Yusuf sudah menyewa restoran itu untuk satu malam.
Hampir semua biaya kejutan ulang tahun, Yusuflah yang membayar dari hasil
kerjanya selama ini. Yusuf adalah seorang pebisnis muda yang masih sekolah di
bangku SMA.
***
Pengumuman kelulusan kelas 3 pun sudah
di terima masing-masing siswa. Rara membukanya di taman sekolah. Yusuf datang
duduk di sebelah Rara.
“Kenapa nggak di buka?” Tanya Yusuf.
Rara
hanya menoleh ke arah Yusuf. Rara sedang memikirkan sesuatu yang membuat Yusuf
terheran-heran.
“Makasih, ya, Sup Ayam. Makasih atas
semua yang kamu korbankan untukku selama ini.” Kata Rara.
“Kok ngomongnya kayak mau pisah gitu?
Eh, aku kasih tau, ya? Waktu kamu nangis di lantai 3, kamu kan pingsan karena
ucapanku? Kenapa kamu pingsan karena ucapanku?” Tanya Yusuf.
“Takut beasiswanya aku ambil, ya?
Hahaha. Gak usahlah, ya, aku pake ambil beasiswamu segala. Emang aku pinter,
aku juga berhak dapet beasiswa ke Jerman.” Ledek Yusuf.
“Eh, kok jadi songong gitu?” Tanya Rara
mulai merasa sebel sama Yusuf.
“Rara, Yusuf memang mendapatkan
beasiswa. Kita akan tinggal bertiga disana.” Kata Alin.
***
Rara, Alin dan Yusuf berangkat ke
Jerman bersama dengan menempuh perjalanan di pesawat selama kurang lebih 20
jam. Mereka masih harus menempuh studkol atau penyetaraan pembelajaran selama 6
bulan di Jerman. Mereka tinggal di sebuah blok apartemen di Bresslauerstrasse 1B, Saarbruecken, Jerman.
SELESAI